Puisi membawa saya melakukan perjalanan. Meninggalkan rumah. Memasuki kota demi kota. Memahami dunia di luar diri. Memahami hal-ihwal kesedihan dan kebahagiaan. Puisi menjadi kekasih, kawan perjalanan, ibu, sekaligus guru bagi kehidupan saya. Saya menulis puisi dalam setiap perjalanan, namun hakikatnya puisi yang menuntun saya untuk memahami setiap perjalanan. Saya sering kali merasa bermain-ma…
Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya. Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang menga…
Berbeda dengan puisi tema lain yang kadang memiliki motif tertentu, entah itu politis maupun estetis, bagi saya puisi cinta—meminjam istilahnya Umbu Landu Paranggi—adalah puisi “zero referensi”. Puisi yang tak membutuhkan rujukan laiknya puisi dengan tema yang lebih spesifik. Begitu pun puisi bertema maut (dalam pengertian luas) yang menjadi bagian kedua di buku ini. Sebagaimana cint…
lalu mereka yang terkapar pahlawankah jadinya yang ditinggal begitu saja darah-darah mereka bersaut berperang dengan nasib “setia hamba setia berbalas, setia tuanku setia terbatas” * Dalam teater tradisi Mendu, tokoh Mendu digambarkan sebagai pahlawan. Namun, pada sudut lain, perempuan dalam posisi yang begitu rendah. Perempuan-perempuan ditempatkan sebagai gundik, pelayan, perempua…
Dalam waktu kehilangan adalah jarum patah angka-angka patuh mengembalikan kita dalam bentuk utuh bukan siapa-siapa tidak apa-apa juga bagaimana tapi kapan maut dan cinta bersiteru di sublim waktu * Puisi adalah wahana dialog antara diri sendiri dan momentum tentang perjalanan dari sebuah kehilangan hingga menemukan. Dan buku ini adalah sebuah gagasan yang bisa menjadi jembatan unt…
Karena aku selalu bersama para perempuan Maka aku masuk dalam daftar hitam (Nizar Qabbani) Kamus Para Pecinta (Qâmûs al-‘Âsyiqîn) adalah salah satu dari sekian buku antologi puisi Nizar Qabbani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana puisi-puisi cinta Nizar lainnya, 66 puisi dalam antologi ini pun menarik—atau memang tak ada puisi cinta Nizar yang tidak menarik. Nizar …
Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi “politisi” dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang “politisi dalam puisi”, ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politik…
Apakah saya akan menulis puisi sampai mati? Berkali-kali saya pernah mencoba berhenti menulis puisi.Namun, panggilan menulis itu datang lagi.Beberapa tahun saya abaikan puisi karena kesibukan kantor.Namun, huruf-huruf bermunculan dalam mimpi-mimpi saya.Ia mengikat tubuh saya, seolah memaksa saya untuk kembali menuliskannya.Pengembaraan di jalan puisi sering kali membuat saya tersentak.Menulis p…
Mungkin di seberang, di laut lepas itu sebuah kuil telah raib, dan kita terus bertanya-tanya Apakah di laut, di pulau yang karam itu sebuah rahasia mulai tak terdengar dan gemanya, tak lagi memanggil-manggil nama kita? Puisi-puisi dalam buku ini menyoal diri yang tak selesai: eksistensi yang tercerai berai, kekalahan dan perlawan dalam hidup yang kebak oleh nasib buruk. Ia mengajak man…
"Keunikan puisi Mustofa Bisri terletak pada pengungkapan masalah sosial dan spiritual dengan menggunakan bahasa sehari-hari." (Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono) "Rasa terlibat yang kuat dengan masalah sosial, kesungguhan seorang saleh yang berilmu, kerendahan hati dan rasa humor berpadu dalam pribadi Mustofa Bisri yang membayang dalam puisi-puisinya." (Taufiq Ismail, sastrawan) "Lewat puisi…